Kotaminasi Pestisida pada Madu Semakin Meluas

Madu adalah merupakan salah satu bahan pangan yang menyehatkan karena disamping sebagai sumber energi, madu juga memiliki fungsi sebagai anti bakteri terutama jika dioleskan pada luka. Madu memang memiliki banyak fungsi walaupun banyak pengakuan tentang khasiat madu masih belum dibuktikan secara ilmiah (sumber 1).

Ada hal yang cukup mengejutkan dunia ketika hasil penelitian kontaminasi pestisida pada  madu dari seluruh dunia dipublikasikan di Jurnal Ilmiah bergengsi dunia Science pada tanggal 6 Oktober lalu (Sumber 2).

Berbagai jenis madu dari berbagai wilayah di dunia yang diteliti: Sumber: Blaise Mulhauser, ABC
Berbagai jenis madu dari berbagai wilayah di dunia yang diteliti: Sumber: Blaise Mulhauser, ABC

Hasil penelitian ini mengungkap  bahwa dari 198 sampel madu yang diambil dari seluruh benua kecuali Antartika menunjukkan adanya jejak residu 5 senyawa pestisida neonicotinoid yang umum digunakan di bidang pertanian.

Jejak residu pestisida pada madu dari seluruh dunia. Sumber: Science
Jejak residu pestisida pada madu dari seluruh dunia. Sumber: Science

Madu dari Amerika Utara, Eropa dan Asia mengandung level pestisida yang tertinggi.  Walaupun level pestisida dalam madu yang beredar di seluruh dunia ini masih dalam batas aman bagi manusia (di bawah 1.8 0.56 nanogram per gram), namun hasil penelitian memberikan peringatan bagi kita semua bahwa pestisida yang ada di madu yang saat ini berbahaya dan berpengaruh pada koloni lebah madu, namun suatu saat nanti juga akan berbahaya bagi kesehatan manusia.

Pestisida neonicotinoid memang umum digunakan di dunia.  Jika residu pestisida ini menumpuk dalam tubuh manusia maka sudah dapat dipastikan akan berdampak buruk bagi kesehatan manusia.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 198 sampel madu yang dijual secara komersil dikirim dari seluruh dunia ternyata 75% diantaranya mengandung 1 sampai 5 macam senyawa neonicotinoid (acetamiprid, clothianidin, imidacloprid, thiacloprid, dan thiamethoxam). Sebanyak 45% sampel mengandung lebih dari 2 senyawa neonicotinoid, bahkan 10% dari sampel yang diuji mengandung 4-5 senyawa pestisida neonicotinoid.

Hasil penelitian ini memperkuat bukti bahwa sumber makanan lebah madu dari seluruh dunia  telah terkontaminasi dengan pestisida neonicotinoid.

Jejak penelusuran

Kecurigaan akan adanya pestisida dan bahan berbahaya lainnya di dalam madu dimulai sekitar 10 tahun yang lalu. Ketika itu seorang peternak lebih madu di Amerika mendapati sarang lebih peliharaannya tidak ada lebahnya (Sumber 3)

Pada tahun 2016 lalu misalnya populasi lebah madu yang dipelihara di Amerika berkurang sebanyak 28%. Sejak itu penurunan populasi lebah madu di seluruh dunia semakin meluas.

Salah satu penyebab menurunnya secara drastis populasi lebah ini adalah dugaan terkontaminasinya sumber makanan lebah dengan pestisida yang menyebabkan kematian lebah madu.

Thiamethoxam salah satu senyawa neonicotinoid  yang paling umum ditemukan pada madu yang berasal dari wilayah Oceania.  Senyawa pestisida ini memang telah dilarang digunakan di wilayah uni Eropa sejak tahun 2013 lalu karena diduga sebagai salah satu penyebab menurunnya populasi lebah madu di Eropa.

Kandungan pestisida neonicotinoid yang ditemukan pada madu bervariasi dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Wilayah yang paling tinggi kontaminasinya adalah wilayah Amerika Utara yaitu mencapai 85% yang diikuti dengan Asia (80%), Eropa (79%) dan Amerika Selatan (57%).

Satu koloni lebah madu biasanya memiliki anggota lebah madu sekitar 60.000 lebah. Untuk tumbuh dan berkembang lebah madu memang sangat tergantung pada polen dan nectar sebagai sumber makanan utamnya.  Nektar oleh lebah madu yang dikumpulkan oleh lebah madu akan diubah menjadi madu yang berfungsi sebagai makanan dan cadangan makanan.

Pada umumya seekor lebah madu memiliki daya jelajah sekitar 4 km dari sarangnya untuk mencari dan mengumpulkan polen dan nektar. Namun ada diantara lebah madu yang memiliki daya jelajah sampai 12,5 km.

Jadi  jika madu yang dihasilkan oleh suatu koloni terkontamasi residu pestisida maka kita dapat membayangkan luasan wilayah sekitar koloni yang terkontaminasi.

Hasil penelitian ini menjadi peringatan bagi kita semua bahwa kontaminasi residu pestisida dapat terjadi pada  bahan makanan yang selama ini kita konsumsi dan kita anggap aman sekaligus memberikan gambaran bagi kita akan rentannya keberlangsungan populasi lebah abu yang selama ini sangat berjasa dalam proses polinasi pada tanaman.

rujukan : kompasiana

Iklan

About Abdurrazaq

nama saya : Abdurrazaq Abu Muhammad Yansa Maulana Bahtiar beralamat di sumberlawang kab sragen GM: nccaster@gmail.com facebook: www.facebook.com/ncca19 ncca19.wordpress.com

Posted on 10 Maret 2018, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: