Monthly Archives: Maret 2018

Ingin Tahu Madu yang Anda Konsumsi Asli atau Tidak? Coba Uji dengan Cara ini

Madu memang sudah dikenal bermanfaat bagi kesehatan, karena disamping sebagai sumber energi berbagai khasiat lainnya seperti anti mikroba  jika dioleskan pada luka dan berbagai fungsi lainnya (baca selengkapnya di sini).

Namun sayangnya madu yang beredar di pasaran seringkali diragukan keasliaannya.  Demi mendapatkan keuntungan yang lebih banyak tidak jarang madu dicampur dengan berbagai bahan tambahan seperti air, gula, sirop, pemanis buatan, aroma madu buatan dan bahan lainnya.

Cara terbaik untuk mendapatkan madu asli adalah dengan cara membelinya langsung dari peternak lebah, namun tentunya cara ini sangat jarang dilakukan oleh penggemar madu mengingat biasanya menghadapi  kendala jarak dan waktu untuk mendapatkan madu asli dengan cara seperti ini.

Bagi orang awam memang terkadang sangat sulit untuk membedakan yang mana madu asli dan yang mana madu campuran.  Cara yang paling tepat untuk menguji keasliannya memang harus dianalisa di laboratorium terkait kadar air, jenis gula dan bahan aktif lainnya.  Namun tentunya hal ini sulit dilakukan oleh setiap orang dan memerlukan biaya yang cukup mahal.

Jika kita membeli madu dan ingin tau apakah madu yang kita beli tersebut madu asli atau madu campuran, ada beberapa cara praktis yang dapat dilakukan untuk mengujinya di rumah.

Uji semut

Cara ini banyak dilakukan orang dengan asumsi bahwa semut akan lebih tertarik pada gula yang ditambahkan pada madu jika dibandingkan dengan madu murni.

Cara ini memang masih mengundang kontroversi karena tidak didukung oleh penelitian ilmiah.  Sampai saat ini tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa semut lebih tertarik  pada gula jika dibandingkan dengan madu.

Satu satunya bukti ilmiah yang dapat digunakan adalah ketertarikan semut pada gula ditentukan oleh kekentalan, aroma madu yang berasal dari bunga yang berbeda, namun tidak secara spesifik dapat membedakan antara gula yang ditambahkan dalam madu dengan gula murni yang ada di dalam madu asli.

Uji tetes

Cara ini sangat mudah dilakukan, yaitu dengan cara meneteskan madu  ke ibu jari.  Setelah madu diteteskan jika madu tetesan madu melebar dan  tumpah dari ibu jari, maka madu tersebut tidak murni.  Madu murni jika diteteskan di ibu jari tidak akan tumpah dan menetes dari ibu jari.

Uji tetes ini memang belum sepenuhnya dapat menentukan kemurnian madu yang kita beli.  Cara ini perlu dikombinasikan dengan uji lainnya yang cukup sederhana dan dapat dilakukan di rumah.

Uji air

Uji berikutnya yang mudah dilakukan adalah pengujian dengan air.  Dalam melakukan uji ini  diperlukan sebuah gelas dan air putih.  Kita perlu mengisi gelas dengan air putih terlebih dulu dan selanjutnya menambahkan 1 sendok teh  madu ke dalam gelas yang berisi air tersebut.

Jika madu yang dimasukkan ke dalam gelas tersebut langsung larut dalam air, maka madu tersebut tidak murni.  Madu murni jika dimasukkan dalam air akan tetap berada di dadsr gelas untuk  beberapa waktu dan tidak langsung larut.

Uji Api

Madu asli pada umumnya mudah terbakar, sehingga pengujian dengan menggunakan api dapat dilakukan untuk menentukan kemurnian madu.

Cara ini cukup mudah dilakukan, yaitu dengan menggunakan batang korek api yang kering.  Celupkan kepala batang korek api ke dalam madu dan selanjutnya gesek kepala korek api yang terkena madu tersebut ke kotak korek api.

Jika madu yang diuji itu murni, maka korek api tersebut akan menyala dan terus membakar madu sampai habis.  Sebaliknya jika madu tersebut tidak asli, maka korek tidak akan menyala atau sulit menyala karena menjadi lembab karena ada bahan yang dicampurkan kedalam madu keperti air dll.

Uji serap

Cara lain yang dapat mudah dilakukan untuk menguji kemurnian madu adalah dengan menggunakan kertas yang memiliki daya serap tinggi seperti kertas tissue yang tebal. Uji ini akan akurat hasilnya jika madu tersebut dicampur dengan air.

Melalui cara ini jika madu sudah ditambahkan air, maka tetesan madu pada kertas yang memiliki daya serap tinggi akan cepat membasahi kertas dan area basahnya akan melebar. Sayangnya cara ini kurang akurat jika bahan yang ditambahkan pada madu tersebut adalah sirop gula yang tidak menunjukkan tanda pelebaran air pada kertas setelah diteteteskan.

Uji cuka

Cuka murni ternyata dapat juga digunakan untuk menguji kemurnian madu.  Cara ini mudah dilakukan yaitu hanya dengan menambahkan 2-3 tetes cuka murni ke dalam madu, setelah itu aduk secara merata. Jika setelah dicampur secara merata madu berbusa maka dapat disimpulkan bahwa madu yang diuji itu tidak murni.

Berbagai cara pengujian di atas dapat dilakukan dengan mudah di rumah, namun sebaiknya sebaiknya tidak menggunakan satu uji saja dalam menentukan apakah madu yang diuji itu murni atau tidak.

Mengkonsumsi madu asli memang sangat dianjurkan karena jika kita mengkonsumsi yang telah dipalsukan bukan tidak mungkin akan membahayakan  kesehatan  karena bahan tambahan yang dicampurkan ke dalam madu.

Rujukan: kompasiana

Iklan

Kotaminasi Pestisida pada Madu Semakin Meluas

Madu adalah merupakan salah satu bahan pangan yang menyehatkan karena disamping sebagai sumber energi, madu juga memiliki fungsi sebagai anti bakteri terutama jika dioleskan pada luka. Madu memang memiliki banyak fungsi walaupun banyak pengakuan tentang khasiat madu masih belum dibuktikan secara ilmiah (sumber 1).

Ada hal yang cukup mengejutkan dunia ketika hasil penelitian kontaminasi pestisida pada  madu dari seluruh dunia dipublikasikan di Jurnal Ilmiah bergengsi dunia Science pada tanggal 6 Oktober lalu (Sumber 2).

Berbagai jenis madu dari berbagai wilayah di dunia yang diteliti: Sumber: Blaise Mulhauser, ABC
Berbagai jenis madu dari berbagai wilayah di dunia yang diteliti: Sumber: Blaise Mulhauser, ABC

Hasil penelitian ini mengungkap  bahwa dari 198 sampel madu yang diambil dari seluruh benua kecuali Antartika menunjukkan adanya jejak residu 5 senyawa pestisida neonicotinoid yang umum digunakan di bidang pertanian.

Jejak residu pestisida pada madu dari seluruh dunia. Sumber: Science
Jejak residu pestisida pada madu dari seluruh dunia. Sumber: Science

Madu dari Amerika Utara, Eropa dan Asia mengandung level pestisida yang tertinggi.  Walaupun level pestisida dalam madu yang beredar di seluruh dunia ini masih dalam batas aman bagi manusia (di bawah 1.8 0.56 nanogram per gram), namun hasil penelitian memberikan peringatan bagi kita semua bahwa pestisida yang ada di madu yang saat ini berbahaya dan berpengaruh pada koloni lebah madu, namun suatu saat nanti juga akan berbahaya bagi kesehatan manusia.

Pestisida neonicotinoid memang umum digunakan di dunia.  Jika residu pestisida ini menumpuk dalam tubuh manusia maka sudah dapat dipastikan akan berdampak buruk bagi kesehatan manusia.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 198 sampel madu yang dijual secara komersil dikirim dari seluruh dunia ternyata 75% diantaranya mengandung 1 sampai 5 macam senyawa neonicotinoid (acetamiprid, clothianidin, imidacloprid, thiacloprid, dan thiamethoxam). Sebanyak 45% sampel mengandung lebih dari 2 senyawa neonicotinoid, bahkan 10% dari sampel yang diuji mengandung 4-5 senyawa pestisida neonicotinoid.

Hasil penelitian ini memperkuat bukti bahwa sumber makanan lebah madu dari seluruh dunia  telah terkontaminasi dengan pestisida neonicotinoid.

Jejak penelusuran

Kecurigaan akan adanya pestisida dan bahan berbahaya lainnya di dalam madu dimulai sekitar 10 tahun yang lalu. Ketika itu seorang peternak lebih madu di Amerika mendapati sarang lebih peliharaannya tidak ada lebahnya (Sumber 3)

Pada tahun 2016 lalu misalnya populasi lebah madu yang dipelihara di Amerika berkurang sebanyak 28%. Sejak itu penurunan populasi lebah madu di seluruh dunia semakin meluas.

Salah satu penyebab menurunnya secara drastis populasi lebah ini adalah dugaan terkontaminasinya sumber makanan lebah dengan pestisida yang menyebabkan kematian lebah madu.

Thiamethoxam salah satu senyawa neonicotinoid  yang paling umum ditemukan pada madu yang berasal dari wilayah Oceania.  Senyawa pestisida ini memang telah dilarang digunakan di wilayah uni Eropa sejak tahun 2013 lalu karena diduga sebagai salah satu penyebab menurunnya populasi lebah madu di Eropa.

Kandungan pestisida neonicotinoid yang ditemukan pada madu bervariasi dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Wilayah yang paling tinggi kontaminasinya adalah wilayah Amerika Utara yaitu mencapai 85% yang diikuti dengan Asia (80%), Eropa (79%) dan Amerika Selatan (57%).

Satu koloni lebah madu biasanya memiliki anggota lebah madu sekitar 60.000 lebah. Untuk tumbuh dan berkembang lebah madu memang sangat tergantung pada polen dan nectar sebagai sumber makanan utamnya.  Nektar oleh lebah madu yang dikumpulkan oleh lebah madu akan diubah menjadi madu yang berfungsi sebagai makanan dan cadangan makanan.

Pada umumya seekor lebah madu memiliki daya jelajah sekitar 4 km dari sarangnya untuk mencari dan mengumpulkan polen dan nektar. Namun ada diantara lebah madu yang memiliki daya jelajah sampai 12,5 km.

Jadi  jika madu yang dihasilkan oleh suatu koloni terkontamasi residu pestisida maka kita dapat membayangkan luasan wilayah sekitar koloni yang terkontaminasi.

Hasil penelitian ini menjadi peringatan bagi kita semua bahwa kontaminasi residu pestisida dapat terjadi pada  bahan makanan yang selama ini kita konsumsi dan kita anggap aman sekaligus memberikan gambaran bagi kita akan rentannya keberlangsungan populasi lebah abu yang selama ini sangat berjasa dalam proses polinasi pada tanaman.

rujukan : kompasiana

Kebijakan Satu Anak dan Fenomena Bujang Lapuk yang Melanda Tiongkok

Mungkin tidak pernah terbayangkan oleh pemerintah Tiongkok sebelum, setelah lebih dari 35 tahun penerapan kebijakan one child one policy, fenomena kesulitan mencari istri sekarang sedang melanda Tiongkok.

Penerapan kebijakan satu anak per keluarga yang diterapkan di era tahun 1980 an ditujukan untuk mengontrol angka kelahiran yang saat itu sangat mengkhawatirkan itu kini menunjukkan dampaknya walaupun kebijakan ini sudah diperlonggar pada tahun 2015 lalu.

Kebijakan one child yang diterapkan tahun 1979 kini mulai menimbulkan dampaknya. Sumber:i.ytimg.com

Hal yang paling menarik  ketika peraturan ini diterapkan adalah respon masyarakat yang cenderung ingin memiliki anak laki-laki karena alasan budaya yang menempatkan anak laki-laki sebagai penerus marga dan aset penerus usaha keluarga.

Dampak kebijakan one child terhadap keseimbangan gender. Sumber: s3.mirror.co.uk
Dampak kebijakan one child terhadap keseimbangan gender. Sumber: s3.mirror.co.uk

Akibatnya selama kurun waktu 35 tahun terjadi  perubahan struktur populasi yang mengarah pada jumlah laki-laki yang lebih banyak jika dibandingkan dengan perempuan. Saat kebijakan berlangsung keluarga pada umumnya memeriksakan jenis kelamin bayinya saat usia kandungan 2 bulan. Jika janin tersebut berjenis kelamin perempuan, maka akan dilakukan aborsi.

Data empiris menunjukkan bahwa saat ini  diprediksi 1 dari setiap 5  pemuda Tiongkok tidak akan mendapatkan wanita untuk dijadikan istri.

Ketidak seimbangan gender akan terus berlanjut. Sumber: CNN , i2.cdn.turner.com
Ketidak seimbangan gender akan terus berlanjut. Sumber: CNN , i2.cdn.turner.com

Ketidakseimbangan gender ini memang sangat mengkhawatirkan dan kemungkinan besar pada saat diluncurkan program one child one family kurang diperkirakan dampak dalam jangka panjangnya. Dalam jangka pendek kebijakan ini memang sangat ampuh untuk menahan meledaknya populasi Tiongkok, namun  dalam jangka panjang justru akan menimbulkan masalah baru.

Tanda-tanda ketidakseimbangan ini terjadi baik di wilayah pedesaan maupun di wilayah perkotaan. Di wilayah pedesaan akibat banyaknya anak laki-laki yang lahir, maka jumlah anak perempuan menjadi langka. Padahal di wilayah pedesaan perempuan sangat diandalkan dalam hal pekerjaan sehari hari, pekerjaan di pertanian dan mengurus orang tua.

Kekurangan calon istri ini membuat banyak pemuda di wilayah pedesaan menjadi bujang lapuk dan justru menjadi beban keluarga. Usia umum pemuda melangsungkan perkawinannya adalah antara 22-24 tahun.  Usia pemuda 27 tahun sudah dianggap kadaluarsa jika belum mendapatkan istri. Sulitnya mendapatkan istri ini tidak saja menjadi beban mental si pemuda juga menjadi semacam “aib” bagi keluarga karena anaknya dinilai tidak laku.

Di wilayah perkotaan fenomena ini juga terjadi. Jika dilihat dengan kasap mata, maka ketidakseimbangan gender ini walaupun tidak separah di pedesaan namun sudah terjadi dan dalam tahap yang mengkhawatirkan.

Di pabrik garmen, pabrik elektronik dan pabrik lainnya yang menggunakan tenaga kerja massal fenomena ini tampak jelas. Jika sekitar 25 tahun yang lalu pabrik yang menggunakan tenaga kerja masal ini didominasi oleh pekerja perempuan dengan perbandingan sekitar 20% laki : 80% perempuan, kini rasio itu merangkak, di mana jumlah proporsi pekerja laki laki justru sudah melebihi proporsi 50%.

Dalam kondisi kekurangan wanita untuk dijadikan istri ini, tentu saja membuat perempuan memiliki kesempatan untuk memilih lebih selektif calon suaminya baik dari segi besaran penghasilan dan juga ketampanannya. Semakin selektifnya perempuan untuk memilih calon suami inilah  yang membuat jumlah bujang lapuk di wilayah perkotaan mulai menumpuk.

Fenomena yang tidak biasa terjadi ini membuat banyak bujang lapuk dan juga keluarganya mengambil langkah ekstrim yaitu berburu calon istri ke luar negeri seperti misalnya dari Vietnam, Myanmar, Laos dan juga Indonesia.

Pencarian istri di luar negeri ini juga sering kali berujung pada masalah karena umumnya melalui calo.  Calon istri pada umumnya diiming-imingi bahwa calon suaminya adalah orang terpandang dan kaya di Tiongkok.  Padahal banyak diantara bujang lapuk ini adalah pemuda biasa.

Akibatnya banyak istri yang berasal dari luar negeri ini setelah kawin dan menetap di Tiongkok sangat kecewa dengan kondisi yang sebenarnya dan sulit kembali ke negara asalnya.

Mencari istri dari luar negeri bukanlah cara satu satunya yang ditempuh oleh para bujang lapuk ini.  Cara lain yang lebih ekstrim adalah menculik ataupun membeli calon istri baik dari wilayah di Tiongkok maupun dari luar negeri. Data empiris juga menunjukkan bahwa angka penculikan perempuan baik yang belum kawin maupun sudah kawin mulai meningkat.  Pihak berwenang Tiongkok pun sudah mulai menyelidiki dan mengambil tindakan.

Perempuan yang diculik ini selanjutnya dibawa ke wilayah pedesaan yang terpencil untuk dijual dan dikawinkan di sana.  Perlindungan dan penjagaan ketat pihak terkait di wilayah terpencil ini membuat kasus penculikan ini sulit untuk diungkap.

Hal yang paling menarik adalah penculikan wanita yang sudah menikah untuk dikawinkan lagi.  Dalam kasus yang menimpa seorang suami yang perekonomiannya termasuk lumayan dimana istrinya diculik ketika dia sedang bekerja. Dalam kasus ini tidak ada satu barangpun yang hilang dan juga tanda-tanda kekerasan yang terjadi. Namun istrinya lenyap seperti ditelan bumi.

Suami ini sangat yakin bahwa istrinya diculik dan dibawa ke wilayah terpencil untuk dikawinkan lagi.  Memang kejadian seperti ini sangat ironis dan memprihatinkan karena mereka sudah memiliki dua anak perempuan yang masih kecil.  Disamping itu tentunya kasus yang menimpa suami ini diyakini bukanlah kasus satu satunya.

Motif utama penculikan ini umumnya adalah masalah uang.  Di mana para perantara mendapatkan uang dari usaha illegal ini.  Selain itu, uang yang diberikan kepada keluarga perempuan pada saat perkawinan terkadang menjadi motif tersendiri bagi keluarga untuk mengawinkan kembali anak perempuannya.

Kejadian hilangnya perempuan dan istri ini membuat banyak kalangan menjadi prihatin dan mengambil langkah komunal mengingat langkah pihak berwenang sering kali tidak membuahkan hasil. Kelompok komunal ini disamping menggunakan fasilitas internet mereka juga menggunakan jejaring lain seperti jejaring sopir taksi, angkutan umum dll untuk melacak dan mengantisipasi upaya penculikan.

Kartu Perempuan Hilang merupakan salah satu cara melacak perempuan yang hilang. Sumber : Al Jazeera, bc05.ajmn.me

Salah satu cara yang cukup unik adalah memodifikasi kartu remi dengan mengganti gambarnya menjadi gambar perempuan yang hilang.  Di bawah photo tersebut dituliskan informasi umum dan sejarah hilangnya.

Kartu ini selanjutnya disebar dan dipegang oleh masyarakat. Jika suatu saat mereka menemukan orang tersebut maka mereka dapat melaporkan ke kelompok komunal ini seperti yang tertera dalam kartu.  Mengingat jenis kartu juga akan memudahkan orang mengingat wajah perempuan yang hilang tersebut.

Perjalanan kebijakan pengontrolan kelahiran di Tiongkok. Sumber: aa.com.tr
Perjalanan kebijakan pengontrolan kelahiran di Tiongkok. Sumber: aa.com.tr

Fenomena membludaknya bujang lapuk yang melanda Tiongkok saat ini  menjadi perhatian dunia dan juga sekaligus menjadi pelajaran yang sangat berharga.  Hal ini mengingatkan kembali bahwa kebijakan yang terkait dengan kependudukan dan sumber daya manusia harus dirancang secara matang dan diperkirakan dampaknya baik dampak jangka pendek maupun dampak jangka panjangnya.

Sekali kebijakan diterapkan kemungkinan dampak buruknya baru akan terlhat setelah  30 tahun atau lebih ke depannya.

Rujukan: kompasiana

%d blogger menyukai ini: