Mengenal Pengobatan Kerokan .

Prolog: Mungkin diantara para pembaca pernah bertanya-tanya dalam hati, mengapa kulit yang dikerok hanya dengan mata uang logam dan balsem, minyak, atau lotion bisa menjadi merah, dan kenapa tidak menjadi warna lain saja? Misalnya biru (seperti warna bengkak yang kita dapatkan akibat tekanan/hantaman dari luar, kan mengerok juga sama halnya dengan memberi tekanan pada kulit melalui mata uang logam).

Mengapa hal itu bisa terjadi? Metode pengobatan dengan kerokan ini sudah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu dan dipercaya dapat memberi kesembuhan. Kerokan adalah suatu pengobatan tradisional Jawa dengan cara menekan dan menggeserkan benda tumpul (biasanya uang logam, atau alat bantu khusus kerok yang terbuat dari plastik, tulang, keramik, batu giok, potongan jahe, potongan bawang, dan lain-lain. Alat-alat tersebut harus tumpul supaya tidak melukai kulit) pada tubuh secara berulang-ulang dengan cairan yang licin sampai terjadi bilur-bilur berwarna merah.

Fungsi cairan yang licin ini untuk melicinkan proses kerokan sehingga menghindari terjadinya kulit lecet, selain itu, jika dipergunakan balsem atau minyak, dapat juga untuk menghangatkan. Pengobatan Metode Kerokan Ternyata Dipraktekan Seluruh Dunia! Pengobatan dengan kerokan ini ternyata tidak hanya dikenal di masyarakat Jawa, tetapi sudah menyebar ke daerah-daerah lain di Indonesia, bahkan sampai di luar negeri. Di Vietnam, pengobatan ini disebut Cao Gio, Di Kamboja disebut Goh Kyol (rubbing the wind), Di Cina disebut Gua Sha (Gua=menggosok/scraping, Sha=racun/toksin), namun kebanyakan pengobatan ini di Cina menggunakan batu Jade sehingga disebut Jade stone therapy, Di Barat disebut coining atau coin rubbing. Masuk Angin? Ini Penjelasan Medisnya! Pengobatan dengan kerokan ini dipercaya bermanfaat untuk keadaan yang oleh masyarakat awam disebut masuk angin untuk menggambarkan keadaan berupa rasa tidak enak badan, yang ditandai dengan perut kembung, hidung berair, pegel linu, nyeri kepala, dan sebagainya.

Ketika masuk angin, kita menjadi kedinginan atau suhu tubuh menurun yang mengakibatkan pembuluh darah di kulit mengalami penyempitan (konstriksi) sebagai kompensasinya.Kenapa? Hal ini dilakukan tubuh agar seluruh tubuh tidak ikut kedinginan. Konstriksi atau penyempitan itu dapat mengakibatkan oksigenasi / pasokan oksigen pada permukaan tubuh berkurang. Jika oksigenasi / kadar oksigen pada permukaan tubuh (terutama bagian belakang) turun atau berkurang, sekujur badan dapat terasa sakit. Selanjutnya, akan muncul gejala bersin pertanda terjadi penurunan temperatur tubuh. Kerokan Ternyata Berpedoman Pada Hukum Einstein! Menurut Dr. Koosnadi Saputra, DSR, akupunturis klinik, upaya untuk meningkatkan panas di bagian belakang tubuh bisa berpedoman pada hukum Einstein (E = mC2)! Energi atau panas dihasilkan dari gesekan dua benda. Kalau permukaan kulit tubuh digosok-gosok dengan tangan atau suatu benda tumpul secara cepat, suhu tubuh pun akan meningkat.

Panas yang cukup tinggi menyebabkan terjadinya pelebaran pembuluh darah dalam kulit. Karena pelebaran pembuluh darah, otomatis peredaran darah menjadi lebih lancar dan oksigenasi / aliran oksigen akan lebih baik pada jaringan otot dan organ tubuh, sehingga rasa sakit di tubuh berkurang. Maka dari itu, metode pengobatan kerokan dapat menjadi salah satu perwujudan hukum Einstein. Kerokan tidak menyebabkan rasa sakit jika dilakukan dengan benar.

Arti WARNA MERAH Pada Kerokan Warna merah yang terjadi dapat dipakai sebagai pengukur berat ringannya masuk angin, makin merah warnanya makin berat derajat sakitnya. Kerokan Sebabkan Ketagihan?! Hasil survei pada 390 responden di kota Solo menunjukkan bahwa 87% dari responden yang berasal dari golongan bawah sampai atas yang memanfaatkan dan merasakan kegunaan pengobatan ini merasa ketagihan. Di Amerika, pengobatan ini mengundang perdebatan dan oleh tenaga kesehatan Amerika dikatakan bahwa tindakan ini adalah abuse. Namun, penelitian yang dilakukan oleh dr. Didik Gunawan Tamtomo, seorang dosen fakultas kedokteran di Surabaya terhadap jaringan biopsi kulit sesudah kerokan menunjukkan bahwa tidak terdapat kerusakan kulit, yang ada hanyalah reaksi inflamasi/radang.

Inflamasi/radang adalah reaksi dari suatu jaringan hidup yang mempunyai vaskularisasi (sejenis sistem pembuluh darah) terhadap trauma (injury) lokal dan merupakan suatu proses kompleks meliputi perubahan pembuluh darah, jaringan ikat, dan interaksi berbagai jenis sel. Inflamasi bertujuan untuk menetralisir agen/zat penyebab trauma dan membersihkan jaringan mati, sehingga dapat dicapai penyembuhan dan perbaikan tubuh. Jadi, inflamasi/radang merupakan salah satu komponen penyembuhan. Inflamasi mempunyai tanda-tanda yang khas, yang diantaranya adalah warna merah (dalam kedokteran disebut rubor) yang terjadi karena jaringan yang meradang menjadi mengandung banyak darah akibat kapiler-kapiler pembuluh darah yang melebar dan kapiler-kapiler yang sebelumnya kosong/menyempit menjadi berisi darah juga, akibatnya sirkulasi darah meningkat dan memberikan warna kemerahan; dan timbul rasa panas (dalam kedokteran disebut calor) yang dapat meningkat 0,5-2 derjat Celsius yang terjadi akibat sirkulasi darah yang meningkat.

Jadi, telah jelaslah mengapa ketika dikerok warna kulit dapat berubah menjadi merah. Hal ini akibat salah satu tanda khas dari reaksi inflamasi yang ditimbulkan melalui kerokan. Pada reaksi inflamasi, juga terjadi pengeluaran mediator inflamasi seperti IL-1, TNF, histamin, beta endorfin, dan sebagainya serta penurunan PGE2, bradikinin, dan C3. IL-1 dan TNF berfungsi sebagai petanda bahwa telah terjadi reaksi fase akut, yaitu inflamasi lokal akibat kerokan yang ditandai dengan kemerahan dan panas, selain itu juga mengaktivasi sel-sel darah sehingga sirkulasi darah meningkat. Histamin penting di awal proses inflamasi.

Penelitian Medis Sehubungan Dengan Kerokan Penelitian mengenai manfaat kerokan yang dilakukan di bawah bimbingan tiga Guru Besar Fakultas Kedokteran di Surabaya menyimpulkan, bahwa kerokan dapat menyebabkan kenaikan kadar beta-endorfin sehingga dapat mengurangi rasa nyeri otot (mialgia) dan mengakibatkan penderita merasa lebih enak dan segar, serta merangsang organ viscera ( organ dalam ), terutama paru-paru dan jantung sehingga penderita bisa bernapas lebih enak dan lega, peredaran darah juga menjadi lebih baik. Kadar PGE2 (Prostaglandin E2) dan bradikinin yang menurun menyebabkan mialgia / nyeri otot berkurang karena kenyataannya, PGE2 merupakan biang kerok penyebab mialgia (nyeri otot). Jika zat PGE2 naik maka akan meningkatkan kepekaan nosiseptor yang disebut sentra sensitisasi, sehingga kita menjadi sensitif terhadap tekanan dan menimbulkan rasa nyeri.

Jadi, jika kadar PGE2 bisa diturunkan, maka rasa nyeri tersebut juga akan berkurang. Tinggi rendahnya kadar PGE2 akan mempunyai korelasi dengan berat ringannya mialgia. Bradikinin dan C3 merupakan zat yang dapat meningkatkan permeabilitas vaskuler. Bagaimana membuat pola kerokan yang baik? Para ahli akupunktur berpendapat bahwa sebaiknya alat kerok melewati titik akupuntur agar saraf motorik dapat terangsang, sehingga dapat memperlancar sirkulasi darah. Pola umum kerokan biasanya membentuk garis-garis lurus dari atas ke bawah dan miring di sisi kiri-kanan ruas-ruas tulang belakang ataupun pada leher bagian belakang.

Pada tubuh kita terdapat sekitar 360 titik akupuntur utama yang berhubungan dengan organ penting. Begitu pun pada tubuh bagian belakang, terdapat titik-titik yang berhubungan dengan organ dalam tubuh (organ viscera). Dengan pola kerokan yang benar, titik-titik akupuntur dapat dicapai dengan sempurna. Kerokan jarang dilakukan pada tubuh bagian depan karena kurang berguna. Untuk mengusir masuk angin, yang efektif adalah mengerok daerah bagian belakang tubuh dan leher.

Tindakan kerokan searah yang diulang-ulang merupakan gerakan memperkuat. Sampai sejauh mana kekuatan tekanannya tidak ada batasan tertentu. Yang penting tak sampai melukai. Tiap orang memiliki kepekaan kulit dan daya tahan terhadap rasa sakit yang berbeda-beda. Karena itu, ada yang dikerok pelan saja sudah meringis kesakitan. Tapi tak jarang ada yang justru minta dikerok kuat-kuat sampai kulit berwarna merah padam. Padahal tak ada aturan hasil kerokan harus sampai merah padam. Fakta & Mitos Tentang “Masuk Angin” Jadi, kerokan merupakan upaya mengusir ”masuk angin” dengan cara meningkatkan panas (calor) akibat sirkulasi darah yang meningkat sehingga memberikan warna kemerahan (rubor), dan bukan mengeluarkan angin lewat pori-pori kulit. Bagi masyarakat awam, kerokan sering dipahami sebagai cara untuk “mengeluarkan angin” dari tubuh lewat pori-pori kulit.

Padahal, angin atau udara tidak pernah masuk atau keluar lewat pori-pori kulit. Angin hanya bisa masuk atau keluar lewat organ pernapasan dan pencernaan. Lalu, hal yang patut diingat dan dilakukan bila Anda sudah kerokan adalah tidak mandi karena setelah kerokan terdapat peningkatan panas yang menyebabkan pori-pori kulit dalam kondisi terbuka. Lebih baik, sekalah kulit dengan lap basah (yang dicelupkan pada air hangat lalu diperas). Jika langsung dengan air dingin, sel-sel tubuh yang masih panas akibat kerokan akan terkaget bersentuhan dengan air dingin dan dapat membuat sel-sel tubuh tidak stabil.

Selain itu, Anda juga harus ingat bahwa kerokan hanyalah sebuah langkah pencegahan! Anda tetap harus ke dokter untuk mengkonsultasikan kondisi tidak enak badan Anda bila sakit Anda tidak kunjung sembuh atau bertambah parah. Selama sakit, lakukanlah hal-hal yang dapat membantu kesembuhan Anda, seperti banyak minum air putih, mengkonsumsi makanan dan minuman hangat yang bergizi, serta istirahat dan tidur secukupnya. Salam sehat!

Sumber :

1. Bagian Patologi Anatomik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1973. Patologi. Jakarta: FKUI. Didik G. T. Gambaran Histopatologi Kulit pada Pengobatan Tradisional Kerokan.

2. Cermin Dunia Kedokteran. 2008; 160: 28-31. Robbins, Stanley L. dkk. 1995.

3. Buku Saku Dasar Patologi Penyakit Ed.5. Alih Bahasa: Prof. dr. Achmad Tjarta, Prof. dr. Sutisna Himawan, dr. A. N. Kurniawan. Jakarta: EGC.

Artikel kesehatan di : http://www.tanyadok.com/kesehatan/dikerok-kok-bisa-merah

Mengenal Kabupaten Sragen Jawa Tengah

Pada tulisan kali saya akan sedikit mengulas mengenai Kabupaten Sragen Jawa Tengah. Kabupaten Sragen merpukan tempat dimana saya di lahirkan dan tinggal sampai sekarang. Mulai dari Sd – Smp saya bersekolah di Sragen, bahkan setelah lulus sekolah pun saya bekerja di Kabupaten Sragen ini juga.

logo_sragen

Saya kenalkan kepada anda mengenai Kabupaten Sragen seperti berikut di bawah ini:

Pemerintahan

Bupati Sragen : Agus Fathur Rahman, SH, MH (2011 – … )

Wakil Bupati Sragen : H. Daryanto, SH  (2011 – … )

Situs web http://www.sragenkab.go.id/

Koordinat : 71º5′ – 7º30′ LS, 110º45′ – 111º10′ BT

Batas Wilayah :

Barat : Kota Surakarta, Kabupaten Boyolali (Jawa Tengah)

Utara: Kabupaten Grobogan (Jawa Tengah)

Timur: Kabupaten Ngawi (Jawa Timur)

Selatan: Kabupaten Karanganyar (Jawa Tengah)

 

Pusat Kesehatan

Rumah Sakit Umum Daerah dr. Soehadi Prijonegoro Kabupaten Sragen

Jl. Raya Sukowati 534 Nglorog Sragen

Phone:(0271) 891068

Website: http://www.rsspsragen.com

 

Rumah Sakit Umum Daerah DR SOERATNO GEMOLONG

Jalan Doktor Soetomo No.792

Phone:(0271) 6811839

 

Luas Wilayah : 94.155 Ha Luas Sawah : 40.129 Ha Tanah Kering : 54.026 Ha

Total Populasi :  883.464 jiwa

Kepadatan : 938,31 jiwa/km2

Pembagian Administratif

Kabupaten Sragen terdiri atas 20 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah 208 desa dan kelurahan. Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Sragen.

1. Kecamatan Gemolong
Daftar nama Desa/Kelurahan :

  1. Kelurahan/Desa Brangkal (Kodepos : 57274)
  2. Kelurahan/Desa Gemolong (Kodepos : 57274)
  3. Kelurahan/Desa Geneng Duwur (Kodepos : 57274)
  4. Kelurahan/Desa Jatibatur (Kodepos : 57274)
  5. Kelurahan/Desa Jenalas (Kodepos : 57274)
  6. Kelurahan/Desa Kalangan (Kodepos : 57274)
  7. Kelurahan/Desa Kaloran (Kodepos : 57274)
  8. Kelurahan/Desa Kragilan (Kodepos : 57274)
  9. Kelurahan/Desa Kwangen (Kodepos : 57274)
  10. Kelurahan/Desa Nganti (Kodepos : 57274)
  11. Kelurahan/Desa Ngembat Padas (Kodepos : 57274)
  12. Kelurahan/Desa Peleman (Kodepos : 57274)
  13. Kelurahan/Desa Purworejo (Kodepos : 57274)
  14. Kelurahan/Desa Tegaldowo (Kodepos : 57274)

2. Kecamatan Gesi
Daftar nama Desa/Kelurahan  :

  1. Kelurahan/Desa Blangu (Kodepos : 57262)
  2. Kelurahan/Desa Gesi (Kodepos : 57262)
  3. Kelurahan/Desa Pilangsari (Kodepos : 57262)
  4. Kelurahan/Desa Poleng (Kodepos : 57262)
  5. Kelurahan/Desa Slendro (Kodepos : 57262)
  6. Kelurahan/Desa Srawung (Kodepos : 57262)
  7. Kelurahan/Desa Tanggan (Kodepos : 57262)

3. Kecamatan Gondang
Daftar nama Desa/Kelurahan :

  1. Kelurahan/Desa Bumiaji (Kodepos : 57254)
  2. Kelurahan/Desa Glonggong (Kodepos : 57254)
  3. Kelurahan/Desa Gondang (Kodepos : 57254)
  4. Kelurahan/Desa Kaliwedi (Kodepos : 57254)
  5. Kelurahan/Desa Plosorejo (Kodepos : 57254)
  6. Kelurahan/Desa Srimulyo (Kodepos : 57254)
  7. Kelurahan/Desa Tegalrejo (Kodepos : 57254)
  8. Kelurahan/Desa Tunggul (Kodepos : 57254)
  9. Kelurahan/Desa Wonotolo (Kodepos : 57254)

4. Kecamatan Jenar
Daftar nama Desa/Kelurahan :

  1. Kelurahan/Desa Banyuurip (Kodepos : 57256)
  2. Kelurahan/Desa Dawung (Kodepos : 57256)
  3. Kelurahan/Desa Japoh (Kodepos : 57256)
  4. Kelurahan/Desa Jenar (Kodepos : 57256)
  5. Kelurahan/Desa Kandang Sapi (Kodepos : 57256)
  6. Kelurahan/Desa Mlale (Kodepos : 57256)
  7. Kelurahan/Desa Ngepringan (Kodepos : 57256)

5. Kecamatan Kalijambe
Daftar nama Desa/Kelurahan :

  1. Kelurahan/Desa Banaran (Kodepos : 57275)
  2. Kelurahan/Desa Bukuran (Kodepos : 57275)
  3. Kelurahan/Desa Donoyudan (Kodepos : 57275)
  4. Kelurahan/Desa Jetis Karangpung (Kodepos : 57275)
  5. Kelurahan/Desa Kalimacan (Kodepos : 57275)
  6. Kelurahan/Desa Karangjati (Kodepos : 57275)
  7. Kelurahan/Desa Keden (Kodepos : 57275)
  8. Kelurahan/Desa Krikilan (Kodepos : 57275)
  9. Kelurahan/Desa Ngebung (Kodepos : 57275)
  10. Kelurahan/Desa Samberembe (Kodepos : 57275)
  11. Kelurahan/Desa Saren (Kodepos : 57275)
  12. Kelurahan/Desa Tegalombo (Kodepos : 57275)
  13. Kelurahan/Desa Trobayan (Kodepos : 57275)
  14. Kelurahan/Desa Wonorejo (Kodepos : 57275)

6. Kecamatan Karangmalang
Daftar nama Desa/Kelurahan :

  1. Kelurahan/Desa Kroyo (Kodepos : 57221)
  2. Kelurahan/Desa Guworejo (Kodepos : 57222)
  3. Kelurahan/Desa Jurangjero (Kodepos : 57222)
  4. Kelurahan/Desa Kedung Waduk (Kodepos : 57222)
  5. Kelurahan/Desa Mojorejo (Kodepos : 57222)
  6. Kelurahan/Desa Pelem Gadung (Kodepos : 57222)
  7. Kelurahan/Desa Plosokerep (Kodepos : 57222)
  8. Kelurahan/Desa Plumbungan (Kodepos : 57222)
  9. Kelurahan/Desa Puro (Kodepos : 57222)
  10. Kelurahan/Desa Saradan (Kodepos : 57222)

7. Kecamatan Kedawung
Daftar nama Desa/Kelurahan :

  1. Kelurahan/Desa Bendungan (Kodepos : 57292)
  2. Kelurahan/Desa Celep (Kodepos : 57292)
  3. Kelurahan/Desa Jenggrik (Kodepos : 57292)
  4. Kelurahan/Desa Karang Pelem (Kodepos : 57292)
  5. Kelurahan/Desa Kedawung (Kodepos : 57292)
  6. Kelurahan/Desa Mojodoyong (Kodepos : 57292)
  7. Kelurahan/Desa Mojokerto (Kodepos : 57292)
  8. Kelurahan/Desa Pengkok (Kodepos : 57292)
  9. Kelurahan/Desa Wonokerso (Kodepos : 57292)
  10. Kelurahan/Desa Wonorejo (Kodepos : 57292)

8. Kecamatan Masaran
Daftar nama Desa/Kelurahan :

  1. Kelurahan/Desa Dawungan (Kodepos : 57282)
  2. Kelurahan/Desa Gebang (Kodepos : 57282)
  3. Kelurahan/Desa Jati (Kodepos : 57282)
  4. Kelurahan/Desa Jirapan (Kodepos : 57282)
  5. Kelurahan/Desa Karang Malang (Kodepos : 57282)
  6. Kelurahan/Desa Kliwonan (Kodepos : 57282)
  7. Kelurahan/Desa Krebet (Kodepos : 57282)
  8. Kelurahan/Desa Krikilan (Kodepos : 57282)
  9. Kelurahan/Desa Masaran (Kodepos : 57282)
  10. Kelurahan/Desa Pilang (Kodepos : 57282)
  11. Kelurahan/Desa Pringanom (Kodepos : 57282)
  12. Kelurahan/Desa Sepat (Kodepos : 57282)
  13. Kelurahan/Desa Sidodadi (Kodepos : 57282)

9. Kecamatan Miri
Daftar nama Desa/Kelurahan :

  1. Kelurahan/Desa Bagor (Kodepos : 57276)
  2. Kelurahan/Desa Brojol (Kodepos : 57276)
  3. Kelurahan/Desa Doyong (Kodepos : 57276)
  4. Kelurahan/Desa Geneng (Kodepos : 57276)
  5. Kelurahan/Desa Gilirejo (Kodepos : 57276)
  6. Kelurahan/Desa Gilirejo Baru (Kodepos : 57276)
  7. Kelurahan/Desa Girimargo (Kodepos : 57276)
  8. Kelurahan/Desa Jeruk (Kodepos : 57276)
  9. Kelurahan/Desa Soko (Kodepos : 57276)
  10. Kelurahan/Desa Sunggingan (Kodepos : 57276)

10. Kecamatan Mondokan
Daftar nama Desa/Kelurahan :

  1. Kelurahan/Desa Gemantar (Kodepos : 57271)
  2. Kelurahan/Desa Jambangan (Kodepos : 57271)
  3. Kelurahan/Desa Jekani (Kodepos : 57271)
  4. Kelurahan/Desa Kedawung (Kodepos : 57271)
  5. Kelurahan/Desa Pare (Kodepos : 57271)
  6. Kelurahan/Desa Sono (Kodepos : 57271)
  7. Kelurahan/Desa Sumberejo (Kodepos : 57271)
  8. Kelurahan/Desa Tempelrejo (Kodepos : 57271)
  9. Kelurahan/Desa Trombol (Kodepos : 57271)

11. Kecamatan Ngampal
Daftar nama Desa/Kelurahan :

  1. Kelurahan/Desa Bandung (Kodepos : 57252)
  2. Kelurahan/Desa Bener (Kodepos : 57252)
  3. Kelurahan/Desa Gabus (Kodepos : 57252)
  4. Kelurahan/Desa Karangudi (Kodepos : 57252)
  5. Kelurahan/Desa Kebonromo (Kodepos : 57252)
  6. Kelurahan/Desa Klandungan (Kodepos : 57252)
  7. Kelurahan/Desa Ngarum (Kodepos : 57252)
  8. Kelurahan/Desa Pilangsari (Kodepos : 57252)

12. Kecamatan Plupuh
Daftar nama Desa/Kelurahan :

  1. Kelurahan/Desa Cangkol (Kodepos : 57283)
  2. Kelurahan/Desa Dari (Kodepos : 57283)
  3. Kelurahan/Desa Gedongan (Kodepos : 57283)
  4. Kelurahan/Desa Gentan Banaran (Kodepos : 57283)
  5. Kelurahan/Desa Jabung (Kodepos : 57283)
  6. Kelurahan/Desa Jembangan (Kodepos : 57283)
  7. Kelurahan/Desa Karang Anyar (Kodepos : 57283)
  8. Kelurahan/Desa Karangwaru (Kodepos : 57283)
  9. Kelurahan/Desa Karungan (Kodepos : 57283)
  10. Kelurahan/Desa Manyarejo (Kodepos : 57283)
  11. Kelurahan/Desa Ngrombo (Kodepos : 57283)
  12. Kelurahan/Desa Plupuh (Kodepos : 57283)
  13. Kelurahan/Desa Pungsari (Kodepos : 57283)
  14. Kelurahan/Desa Sambirejo (Kodepos : 57283)
  15. Kelurahan/Desa Sidokerto (Kodepos : 57283)
  16. Kelurahan/Desa Somomoro Dukuh (Kodepos : 57283)

13. Kecamatan Sambirejo
Daftar nama Desa/Kelurahan :

  1. Kelurahan/Desa Blimbing (Kodepos : 57293)
  2. Kelurahan/Desa Dawung (Kodepos : 57293)
  3. Kelurahan/Desa Jambeyan (Kodepos : 57293)
  4. Kelurahan/Desa Jetis (Kodepos : 57293)
  5. Kelurahan/Desa Kadipiro (Kodepos : 57293)
  6. Kelurahan/Desa Musuk (Kodepos : 57293)
  7. Kelurahan/Desa Sambi (Kodepos : 57293)
  8. Kelurahan/Desa Sambirejo (Kodepos : 57293)
  9. Kelurahan/Desa Sukorejo (Kodepos : 57293)

14. Kecamatan Sambung Macan
Daftar nama Desa/Kelurahan :

  1. Kelurahan/Desa Banaran (Kodepos : 57253)
  2. Kelurahan/Desa Banyuurip (Kodepos : 57253)
  3. Kelurahan/Desa Bedoro (Kodepos : 57253)
  4. Kelurahan/Desa Cemeng (Kodepos : 57253)
  5. Kelurahan/Desa Gringging (Kodepos : 57253)
  6. Kelurahan/Desa Karanganyar (Kodepos : 57253)
  7. Kelurahan/Desa Plumbon (Kodepos : 57253)
  8. Kelurahan/Desa Sambungmacan (Kodepos : 57253)
  9. Kelurahan/Desa Toyogo (Kodepos : 57253)

15. Kecamatan Sidoharjo
Daftar nama Desa/Kelurahan:

  1. Kelurahan/Desa Bentak (Kodepos : 57281)
  2. Kelurahan/Desa Duyungan (Kodepos : 57281)
  3. Kelurahan/Desa Jambanan (Kodepos : 57281)
  4. Kelurahan/Desa Jetak (Kodepos : 57281)
  5. Kelurahan/Desa Pandak (Kodepos : 57281)
  6. Kelurahan/Desa Patihan (Kodepos : 57281)
  7. Kelurahan/Desa Purwosuman (Kodepos : 57281)
  8. Kelurahan/Desa Sidoharjo (Kodepos : 57281)
  9. Kelurahan/Desa Singopadu (Kodepos : 57281)
  10. Kelurahan/Desa Sribit (Kodepos : 57281)
  11. Kelurahan/Desa Taraman (Kodepos : 57281)
  12. Kelurahan/Desa Tenggak (Kodepos : 57281)

16. Kecamatan Sragen
Daftar nama Desa/Kelurahan :

  1. Kelurahan/Desa Kedungupit (Kodepos : 57211)
  2. Kelurahan/Desa Sragen Tengah (Kodepos : 57211)
  3. Kelurahan/Desa Tangkil (Kodepos : 57211)
  4. Kelurahan/Desa Sragen Kulon (Kodepos : 57212)
  5. Kelurahan/Desa Sine (Kodepos : 57213)
  6. Kelurahan/Desa Sragen Wetan (Kodepos : 57214)
  7. Kelurahan/Desa Nglorog (Kodepos : 57215)
  8. Kelurahan/Desa Karang Tengah (Kodepos : 57216)

17. Kecamatan Sukodono
Daftar nama Desa/Kelurahan :

  1. Kelurahan/Desa Baleharjo (Kodepos : 57263)
  2. Kelurahan/Desa Bendo (Kodepos : 57263)
  3. Kelurahan/Desa Gebang (Kodepos : 57263)
  4. Kelurahan/Desa Jati Tengah (Kodepos : 57263)
  5. Kelurahan/Desa Juwok (Kodepos : 57263)
  6. Kelurahan/Desa Karang Anom (Kodepos : 57263)
  7. Kelurahan/Desa Majenang (Kodepos : 57263)
  8. Kelurahan/Desa Newung (Kodepos : 57263)
  9. Kelurahan/Desa Pantirejo (Kodepos : 57263)

18. Kecamatan Sumberlawang
Daftar nama Desa/Kelurahan :

  1. Kelurahan/Desa Cepoko (Kodepos : 57272)
  2. Kelurahan/Desa Hadiluwih (Kodepos : 57272)
  3. Kelurahan/Desa Jati (Kodepos : 57272)
  4. Kelurahan/Desa Kacangan (Kodepos : 57272)
  5. Kelurahan/Desa Mojopuro (Kodepos : 57272)
  6. Kelurahan/Desa Ngandul (Kodepos : 57272)
  7. Kelurahan/Desa Ngargosari (Kodepos : 57272)
  8. Kelurahan/Desa Ngargotirto (Kodepos : 57272)
  9. Kelurahan/Desa Pagak (Kodepos : 57272)
  10. Kelurahan/Desa Pendem (Kodepos : 57272)
  11. Kelurahan/Desa Tlogo Tirto (Kodepos : 57272)

19. Kecamatan Tangen
Daftar nama Desa/Kelurahan :

  1. Kelurahan/Desa Denanyar (Kodepos : 57261)
  2. Kelurahan/Desa Dukuh (Kodepos : 57261)
  3. Kelurahan/Desa Galeh (Kodepos : 57261)
  4. Kelurahan/Desa Jekawal (Kodepos : 57261)
  5. Kelurahan/Desa Katelan (Kodepos : 57261)
  6. Kelurahan/Desa Ngrombo (Kodepos : 57261)
  7. Kelurahan/Desa Sigit (Kodepos : 57261)

20. Kecamatan Tanon
Daftar nama Desa/Kelurahan :

  1. Kelurahan/Desa Bonagung (Kodepos : 57277)
  2. Kelurahan/Desa Gabugan (Kodepos : 57277)
  3. Kelurahan/Desa Gading (Kodepos : 57277)
  4. Kelurahan/Desa Gawan (Kodepos : 57277)
  5. Kelurahan/Desa Jono (Kodepos : 57277)
  6. Kelurahan/Desa Kalikobok (Kodepos : 57277)
  7. Kelurahan/Desa Karang Talun (Kodepos : 57277)
  8. Kelurahan/Desa Karangasem (Kodepos : 57277)
  9. Kelurahan/Desa Kecik (Kodepos : 57277)
  10. Kelurahan/Desa Ketro (Kodepos : 57277)
  11. Kelurahan/Desa Padas (Kodepos : 57277)
  12. Kelurahan/Desa Pengkol (Kodepos : 57277)
  13. Kelurahan/Desa Sambi Duwur (Kodepos : 57277)
  14. Kelurahan/Desa Slogo (Kodepos : 57277)
  15. Kelurahan/Desa Suwatu (Kodepos : 57277)
  16. Kelurahan/Desa Tanon (Kodepos : 57277)

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Sragen

Data diatas memang masih kurang dari sempurna. Dan saya berterima kasih kepada anda semua yang telah sudi untuk mampir di blog ini dan membaca tulisan diatas.

APA YANG DILAKUKAN AGAR TETAP TEGAR DAN KOKOH DI ATAS  MANHAJ SALAF SHALIH

Originally posted on Catatan Mengenal Manhaj Salaf:

catatanmms147

APA YANG DILAKUKAN AGAR TETAP TEGAR DAN KOKOH DI ATAS  MANHAJ SALAF SHALIH

Fatwa asy-Syaikh Shalih al-Fauzan –hafizhahullahu Ta’ala–

Pertanyaan:

Apa kaidah-kaidah syariat yang perlu diperhatikan oleh seorang muslim agar dia tegar dan kokoh dalam menjalani manhaj salaf shalih, tidak terjatuh pada penyelewengan, serta tidak dipengaruhi oleh manhaj-manhaj susupan yang menyimpang? 

View original 702 more words

Download Canon MP287 Driver

Canon Mp287 merupakan Printer yang dapat digunakan untuk mencetak , memindai dan mengkopi sekaligus. Printer mp287 ini merupakan printer cocok untuk digunakan dirumah maupun di kantor.

Saya ingin berbagi kepada anda sebuah software yaitu Canon MP287 Driver . Software Canon Mp287 ini mempunyai ukuran 22 Mb bisa anda gunakan untuk Windows Xp, Windows Vista, Windows 7 maupun Windows 8.

Silahkan mendownload Driver Canon Mp287 ini di situs download Fileswan.com ,

berikut linknya : Download Canon MP287 Driver

 

Download Canon Ip 2770 driver

downloaddriverip2770

Saya akan berbagi sebuah Driver yang mungkin anda butuhkan. Canon Ip 2770 driver merupakan nama driver tersebut. Menarik karena Canon Ip 2770 merupakan printer yang laris di pasaran. Sehingga akan banyak yang mencari driver ini di Internet.

Driver ini dapat dipakai untuk segala macam versi windows baik windows xp, Windows Vista, Windows 7, maupun windows 8.

Silahkan anda dapat menuju situs yang memposting Canon Ip2770 Driver disini

Terima kasih telah berkunjung di blog ini, silahkan berkomentar

Ada Apa dengan Uban?

oleh : al-Ustadz Abul-Hasan al-wonogiry hafizhahullah

Disebutkan dalam hadits Amr bin Syu’aib : “Janganlah kalian mencabut uban ,karena itu cahaya seorang muslim ( dalam lafadz yang lain : mu’min ) tidaklah seorang muslim yang tumbuh ubannya melainkan ditulis untuknya satu kebaikan dan diangkat derajatnya ….” (Dishohihkan oleh Al-bany dalam Shohih Sunan Ibnu Majah)

Hikmah dalam Uban :
1. Cahaya seorang muslim .
2. Peringatan dekatnya ajal karena mayoritas tumbuh pada manula .
3. Memendekkan angan -angan .
4. Pendorong amal sholih .
5. Menambah kewibawaan .

Berkata Ibnul A’roby : ” Dilarang mencabut tanpa menyemir karena mencabut merudah ciptaan dari asalnya adapun menyemir tidak “.
tetapi dilarang menyemir uban dengan warna hitam .

Disebutkan oleh Ibnu Abdil Bar dari Ibnu Abbas : “Uban yang diubun-ubun adalah kemuliaan , uban dipelipis adalah sifat waro’, uban di kumis adalah buruk uban ditengkuk adalah celaan “.

Sumber : http://almuwahhidiin.com/

Empat Perkara yang Wajib dipelajari setiap Muslim

Bismillahirrahmanirrahim,
Segala puji hanya bagi Allah, dan shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad dan para pengikutnya. Amma ba’du.

Wahai kaum muslimin, ketahuilah! Sesungguhnya ada empat perkara yang wajib untuk kita mempelajarinya, yaitu :

Pertama, Ilmu
Dan ilmu adalah kita mengenal Allah, mengenal RasulNya serta mengenal agama islam dengan berpijak diatas dalil-dalil.

Kedua, Beramal dengan ilmu tersebut.
Ketiga, Kita mendakwahkan ilmu tersebut.
Keempat, Kita bersabar untuk tiga perkara diatas.

Adapun dalil akan wajibnya mempelajari empat perkara diatas adalah firman Allah :
وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, dan beramal saleh, dan saling mewasiatkan kebenaran serta saling berwasiat untuk bersabar”. Al ‘ashr : 1-3.

Al Imam Asy Syafi’i berkata tentang surat ini : “Seandainya Allah tidak menurunkan hujjah melainkan hanya surat ini saja, maka sungguh hal itu sudah cukup bagi manusia”.

Al Imam Al Bukhari membuat sebuah bab dalam kitab shohihnya;
” العلم قبل القول و العمل “
“berilmu sebelum berucap dan beramal”, berdalilkan dengan ayat :
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ
“Ketahuilah, bahwasanya tiada Ilah yang berhak untuk diibadahi kecuali Allah dan mohonlah ampunan untuk dosamu”. Muhammad : 19.

Maka wajiblah seorang Muslim agar berilmu sebelum ia berucap dan beramal.

Wallahul Muwaffiq.
[disadur oleh Imam Syuhada Al Iskandar, lihat kitab Tsalatsah al Ushul karya Syekh Muhammad at Tamimi]

Sumber: http://imamsyuhada.wordpress.com

Pemilik Satu Dirham yang Tertawa

pemilik-satu-dirham-tertawa

Muhammad bin Thohir Al Maqdisi namanya. Dia salah satu dari sekian ulama yang menanggung penderitaan dalam menuntut ilmu. Suatu ketika dia berkata: “Saya pernah kencing darah 2 kali saat-saat belajar hadits; sekali di Baqdad dan sekali di Mekkah karena saya berjalan kaki tanpa menggunakan alas kaki dibawah terik sinar matahari yang menyengat. Suatu ketika Muhammad bin Thohir Al Maqdisi bercerita tentang perjalanan menuntut ilmunya.

Suatu hari saya tinggal di Tunis bersama Abu Muhammad bin Haddad. Bekal saya semakin menipis hingga yang tersisa hanya “Satu dirham”. Saat itu saya sangat membutuhkan roti untuk mengganjal perut saya. Bersama dengan itu juga saya sangat membutuhkan kertas untuk menulis ilmu. Saya bingung ! saya bingung!

Kalau uang satu dirham ini saya belikan roti maka saya tidak mempunyai kertas untuk menulis ilmu. Jika uang satu dirham ini saya gunakan untuk membeli kertas, maka saya akan kelaparan. Kebingungan ini terus berlanjut hingga 3 hari dan selama itu pula saya tidak merasakan makanan sama sekali. Perut saya tidak terisi dengan sesuatu apapun selama 3 hari. Pada pagi hari keempat, dalam hati saya berkata: “Kalau saya mempunyai kertas, saya tidak akan bisa menulis karena saya sangat lapar. Maka saya pun memutuskan untuk membeli sepotong roti dan meletakkan satu dirham tersebut di dalam mulut saya untuk bermain-main dengannya saya pun menuju ke penjual roti. Tanpa terasa saya telah menelan satu dirham tersebut sebelum saya membeli sebuah roti, maka sayapun menertawakan diri saya dan salah satu temanku mendatangiku kemudian berkata : “Apa yang membuat anda tertawa?” Saya menjawab sesuatu yang baik, terus temanku mendesakku untuk menceritakannya tetapi saya terus menolaknya, ia pun terus mendesak saya sehingga saya pun menceritakan kepadanya kisahku ini, maka dia pun mengajak saya kerumahnya dan memberikan saya makanan. (Sumber:Tazkiratul Huffadz/ Imam  Adzahabi)

Mutiara Kisah:

1)     Mengenal sosok ulama hadist yang bernama Muhammad bin tohir

2)     Kesabaran para ulama terdahulu dalam menuntut ilmu

3)     Besarnya keutamaan menuntut ilmu agama

4)     Ilmu tidak akan didapatkan dengan badan yang santai

5)     Bolehnya menceritakan kisah hidup kita  kepada orang lain

6)     Alloh akan memberi rizki kepada hamba-hambaNya dari arah yang dia tidak menyangkanya

Penulis : Ustadz Abu Imron Sanusi
Sumber : Kisah-kisah Keteladanan, Kepahlawanan, Kejujuran, Kesabaran, Menggugah, serta Penuh dengan Hikmah dan Pelajaran Sepanjang Masa. Penerbit : Maktabah At-Thufail, Panciro-Gowa (Makassar-Sulsel).

Sumber : Almakassari.com

Download Kajian Kitab “Tahdzib Siroh libni Hisyam” oleh Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed

Alhamdulillah, Ma’had Dhiyaus Sunnah Cirebon mengadakan kajian intensif selama bulan romadhon bersama Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed.

Kajian ini Insya Allah di laksanakan setiap sore hari sekitar pukul 16.30 WIB bertempat di Masjid Abu Bakar Ash Shiddiq di Ma’had Dhiyaus Sunnah Cirebon. Silakan klik link di bawah ini untuk mendownload.

01. 01 romadhon – 21_07_2012 Peristiwa di Akhir Perang Uhud    Download
02. 02 romadhon – 22_07_2012 Peristiwa di Humaroul Aswad       Download
03. 03 romadhon – 23_07_2012 Kisah Yaumur Roji’                      Download
04. 05 romadhon – 25_07_2012 Kisah Bi’r Ma’unah                      Download
05. 06 romadhon – 26_07_2012 Pengusiran Bani Nadhir               Download
06. 07 romadhon – 27_07_2012 Kisah Perang Dzatur – Riqo’         Download
ZIYADAH :
A. khutbah jum’at ustadz muhammad umar as sewed :
27-07-2012 Peranan Puasa Dalam Meningkatkan Ketaqwaan  Download
B. acara kesehatan ” bincang – bincang bersama dokter asep munandar :
27-07-2012 Puasa dan Kesehatan                                         Download
07. 08 romadhon – 28_07_2012 Kisah Perang Badar Akhir dan Perang Dumatul Jandal  download
08. 09 romadhon – 29_07_2012 Perang Khondaq                         Download
09. 10 romadhon – 30_07_2012 Perang Khondaq ( bag. 2 )           UNDUH
10. 11 romadhon – 31_07_2012 Perang Khondaq ( bag. akhir )      UNDUH
11. 12 romadhon – 01_08_2012 Perang Bani Quroidzoh                UNDUH
12. 13 romadhon – 02_08_2012 Hukuman Bagi Bani Quroidzoh     UNDUH
13. 14 romadhon – 03_08_2012 Ayat – Ayat Tentang Perang Khondaq UNDUH
ZIYADAH :
khutbah jum’at ustadz muhammad umar as sewed :
03-08-2012 Akhlaqul Karimah                                              UNDUH
14. 15 romadhon – 04_08_2012 Ayat – Ayat Tentang Perang Khondaq ( bag. 2 ) UNDUH
15. 16 romadhon – 05_08_2012 Perang Dzi Qorod                       UNDUH
16. 17 romadhon – 06_08_2012 Perang Bani Mushtholiq              UNDUH
17. 18 romadhon – 07_08_2012 Kisah – Kisah Seputar Perang Bani Mushtholiq UNDUH
18. 19 romadhon – 08_08_2012 Haditsul Ifki ( Berita Dusta )        UNDUH

Sumber : Belajar Kenal Islam

Untukmu Yang Bertanya Tentang Tatacara Wudhu Yang Benar

Oleh : Abu Ibrahim Abdullah bin Mudakir

wudhu

Mengetahui bagaimana tatacara wudhu yang benar adalah sebuah perkara yang sangat penting dikarenakan wudhu adalah ibadah yang sangat agung yang merupakan syarat sah ibadah shalat seseorang. Disamping itu wudhu mempunyai keutamaan yang sangat banyak dan diantara keutamaan wudhu yang datang penyebutannya didalam sebuah hadist yaitu dimana Rasulullah shallallahu aalaihi wasallam bersabda :

مَامِنْكُمْمِنْأَحَدٍيَتَوَضَّأُفَيُبْلِغُأَوْفَيُسْبِغُالْوُضُوءَثُمَّيَقُولُأَشْهَدُأَنْلاَإِلَهَإِلاَّاللَّهُوَأَنَّمُحَمَّدًاعَبْدُاللَّهِوَرَسُولُهُإِلاَّفُتِحَتْلَهُأَبْوَابُالْجَنَّةِالثَّمَانِيَةُيَدْخُلُمِنْأَيِّهَاشَاءَ

“ Tidaklah salah seorang diantara kalian berwudhu dan sampai selesai atau menyempurnakan wudhu kemudian membaca doa : “ Aku bersaksi tidak ada ilah (sesembahan) yang berhaq disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwasannya Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya, melainkan akan dibukakan baginya delapan pintu surga yang dia bisa masuk dari pintu mana saja yang dia kehendaki.”

Dalam sebuah riwayat : “Aku bersaksi tidak ada ilah (sesembahan) yang berhaq disembah kecuali Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwasannya Muhammad hamba Allah dan utusan-Nya” (HR. Muslim)

yang hal ini dicapai dengan niat yang ikhlas dan berwudhu dengan benar, oleh karena itu penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana tatacara wudhu yang benar.

Syarat-syarat Wudhu

Wudhu mempunyai syarat-syaratnya yang sebagiannya merupakan syarat-syarat ibadah yang lainnya juga. Yaitu Islam, berakal, tamyyiz, niat, menggunakan air yang suci, menghilangkan apa yang dapat menghalangi sampainya air ke kulit, seperti tanah, cat, dan yang lainnya.

Fardhu-fardhu Wudhu

Menurut pendapat yang benar insya Allah bahwasanya wajib dan fardhu mempunyai makna yang sama tidak ada perbedaan. Fardhu-fardhu wudhu ada enam yaitu : mencuci wajah termasuk bagian wajah berkumur-kumur dan istinsyaq, mencuci kedua tangan sampai siku, mengusap kepala seluruhnya dan termasuk bagian kepala kedua telinga, membasuh kedua kaki, tartib (berurutan), muwaalat (berkesinambungan/tidak teputus). (Silakan lihat kitab Duruus Al Muhimmah liaamatil Ummah, Syaikh Ibnu Baaz Rahimahullah)

 

Tatacara Wudhu

1.       Niat .

Yaitu berniat di dalam hatinya untuk berwudhu hal ini berdasarkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إنماالأعمالبالنيات

“Sesungguhnya amalan itu tergantung dari niatnya.” (HR. Bukhari : 1 dan Muslim : 1907)

Apa hukum niat dalam berwudhu?

Niat adalah syarat sah wudhu dan mandi (mandi janabah) menurut pendapat yang benar, ini pendapatnya mayoritas ulama dari kalangan shahabat dan tabi’in, dalilnya berdasarkan hadits yang telah disebutkan di atas.

Di mana tempatnya niat, dan apa hukum mengucapkan niat?

Berkata Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah : “Niat tempatnya di hati, tidak ada tempatnya di lisan  pada seluruh amalan, oleh karena itu barangsiapa yang mengucapkan niat ketika hendak shalat, atau puasa, atau haji atau wudhu atau amalan yang selain dari itu, maka dia telah berbuat bid’ah dalam agama yang tidak ada padanya.” (Syarh Riyaadhus shaalihin : 13)

 2.       Tasmiyah (membaca Basmallah).

Hal ini berdasarkan dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لاصلاةلمنلاوضوءله, ولاوضوءلمنلميذكراسماللهتعالىعليه

“Tidak ada shalat (tidak sah) orang yang shalat tanpa berwudhu dan tidak ada wudhu (tidak sah) wudhunya seseorang yang tidak menyebut nama Allah.” (HR. Abu Dawud : 101. Ibnu Majjah : 397, dan At-Tirmidzi : 25 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di I’rwa :81 dari sahabat Abu Hurairah)

 

Hukum membaca Bismillah dalam berwudhu?

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum membaca Bismillah ketika berwudhu, hal ini karena berbeda pendapat tentang keshahihan hadits di atas (hadits Abu Hurairah), jadi ada yang berpendapat hukumnya wajib, dan ada yang berpendapat hukumnya sunnah dan ada juga yang berpendapat hukumnya bukan sunnah. Insya Allah pendapat yang mengatakan wajib pendapat yang raajih (terpilih) hal ini berdasarkan hadits yang telah disebutkan di atas. Dan ini madzhabnya Dhohiriyah, Ishaq, salah satu riwayat dari Imam Ahmad, pendapat ini yang dipilih oleh Ibnu Qudamah, Shidiq Hasan Khan, Imam Syaukani, dan Syaikh Al-Albani.

Kapan dibaca dan bagaimana bacaannya?

Dibaca setelah ia berniat untuk berwudhu sebelum melakukan seluruhnya dan yang dibaca adalah (باسمالله) sesuai dengan hadits. Wallahu a’lam.

 3.       Membasuh kedua telapak tangan.

Membasuh kedua telapak tangan sebanyak tiga kali hal ini berdasarkan banyak hadits, di antaranya :

عَنْحُمْرَانَمَوْلَىعُثْمَانَبْنِعَفَّانَأَنَّهُرَأَىعُثْمَانَدَعَابِوَضُوءٍفَأَفْرَغَعَلَىيَدَيْهِمِنْإِنَائِهِفَغَسَلَهُمَاثَلاَثَمَرَّاتٍثُمَّأَدْخَلَيَمِينَهُفِيالْوَضُوءِثُمَّتَمَضْمَضَوَاسْتَنْشَقَوَاسْتَنْثَرَثُمَّغَسَلَوَجْهَهُثَلاَثًاوَيَدَيْهِإِلَىالْمِرْفَقَيْنِثَلاَثًاثُمَّمَسَحَبِرَأْسِهِثُمَّغَسَلَكُلَّرِجْلٍثَلاَثًاثُمَّقَالَرَأَيْتُالنَّبِيَّصلىاللهعليهوسلميَتَوَضَّأُنَحْوَوُضُوئِيهَذَاوَقَالَمَنْتَوَضَّأَنَحْوَوُضُوئِيهَذَاثُمَّصَلَّىرَكْعَتَيْنِلاَيُحَدِّثُفِيهِمَانَفْسَهُغَفَرَاللَّهُلَهُمَاتَقَدَّمَمِنْذَنْبِهِ

Dari Humran –bekas budaknya Ustman Bin Affan- pernah melihat Ustman meminta air untuk wudhu, “ lalu beliau (Ustman) menuangkan air ke kedua telapak tangannya dari wadah tersebut maka dibasuhlah (dicuci) sebanyak tiga kali, beliau lantas mencelupkan tangan kanannya kedalam air tersebut kemudian berkumur-kumur, istinsyaq (memasukkan air kedalam hidung) dan istinsyar (mengeluarkannya). Kemudian beliau membasuh wajahnya sebanyak tiga kali, kemudian membasuh tangannya sampai sikunya sebanyak tiga kali, kemudian mengusap kepalanya, kemudian membasuh (mencuci) setiap kakinya sebanyak tiga kali. Kemudian beliau berkata Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwudhu seperti wudhuku ini dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa yang berwudhu seperti wudhuku ini kemudian shalat dua rakaat tidak berkata-kata di jiwanya (khusyu’), maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari: 159 dan Muslim : 423)

Terkadang dilakukan sebanyak dua kali atau satu kali.

 

Hukum mencuci telapak tangan pada permulaan berwudhu?

Para ulama ijma’ (sepakat) tentang hukumnya sunnah membasuh kedua telapak tangan dalam permulaan berwudhu sebagaimana yang dinukilkan di antaranya oleh Ibnul Mundzir.

Tetapi kalau sehabis tidur pada malam hari lalu bangun dan hendak berwudhu maka hukumnya wajib mencuci kedua telapak tangan pada permulaan berwudhu menurut pendapat yang raajih (terpilih) Insya Allah. Hal ini berdasarkan sebuah hadits, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

وَإِذَااسْتَيْقَظَأَحَدُكُمْمِنْنَوْمِهِفَلْيَغْسِلْيَدَهُقَبْلَأَنْيُدْخِلَهَافِيوَضُوئِهِفَإِنَّأَحَدَكُمْلاَيَدْرِيأَيْنَبَاتَتْيَدُهُ

“Apabila salah seorang dari kalian bangun dari tidur, maka culilah kedua tangannya sebelum memasukkan ke dalam bejana, dikarenakan salah seorang dari kalian tidak tahu di mana tangannya berada.” (HR. Mutafaqun ‘Alaihi) 

Adapun untuk bangun tidur pada siang hari hukumnya sunnah. Dan ini masyhur madzhabnya Imam Ahmad, dan Hasan Al-Bashri dan Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radiyallahu anhuma berpendapat dengannya. Wallahu a’lam.

4.       Madmadhah (berkumur-kumur), Istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung dengan menghirupnya) dan istinsyar (mengeluarkan air dari hidung).

Dalam sebuah hadits diantaranya

Yang diriwayatkan oleh Humran tentang praktek wudhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang dilakukan oleh Utsman Bin Affan sampai pada perktaan

ثُمَّأَدْخَلَيَمِينَهُفِيالْوَضُوءِثُمَّتَمَضْمَضَوَاسْتَنْشَقَوَاسْتَنْثَرَ

“…..Beliau lantas mencelupkan tangan kanannya kedalam air tersebut kemudian berkumur-kumur, istinsyaq (memasukkan iar kedalam hidung) dan istinsyar (mengeluarkannya)…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits yang lainRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabada:

إذاتوضأأحدكمفليجعلفيأنفهماءثمليستنثر

“Jika salah seorang dari kalian berwudhu maka hendaknya dia menghirup air ke hidung lalu mengeluarkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Berkumur-kumur, istinsyaq dan istinsyar dilakukan terkadang sebanyak tiga kali atau dua kali atau satu kali.

Hukum berkumur-kumur dan istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung) ?

Para ulama berselisih pendapat tentang hal ini, Insya Allah pendapat yang rajih (kuat) yang saya pribadi cenderung kepadanya bahwasanya berkumur-kumur dan istinsyaq hukumnya wajib. Berdasarkan sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إذاتوضأتفمضمض

“Jika kamu berwudhu maka berkumurlah.” (HR. Abu Dawud : 144, dishahihkan oleh syaikh Al-Albani di shahih Abi Dawud :131)

Dan ini madzhabnya Ibnu Abi Laila, Hammad, Ishaaq dan masyhur dari Imam Ahmad.

 

Bagaimana cara berkumur-kumur dan istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung)?

Berkumur-kumur dan istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung) dengan tangan kanan kemudian istintsar (mengeluarkan air dari hidung) dengan tangan kiri.  Sebagaimana dalam sebuah hadits,

وعنعبدخيرقال : نحنجلوسننظرإليعليحينتوضأفأدخليدهاليمنىفملأفمهفمضمضواستنشقونثربيدهاليسرىفعلهذاثلاثمراتثمقالمنسرهأنينظرإلىطهوررسولاللهصلىاللهعليهوسلمفهذاطهوره

Dari Abdi Khoir berkata : “Suatu ketika kami duduk-duduk sembari melihat Ali yang sedang berwudhu. Lalu Ali memasukkan tangan kanannya, memenuhi mulutnya kemudian berkumur dan memasukkan air ke dalam hidung dan mengeluarkan air dengan mengunakkan tangan kirinya. Dia melakukan hal itu sebanyak tiga kali lantas mengatakan, siapa yang suka untuk melihat tatacara wudhunya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka inilah sifat wudhunya beliau.” (HR. Ad-Darimi dari Abdi Khair, syaikh Al-Albani mengatakan sanadnya shahih di Al-Misykat 1/89)

 

Apakah menggabungkan dengan satu cidukan untuk berkumur-kumur dan istinsyaq (memasukkan air kedalam hidung)atau memisahkan satu cidukan untuk berkumur-kumur dan mengambil air lagi untuk istinsyaq?

Menurut pendapat yang raajih (terpilih) Insya Allah dan ini pendapatnya mayoritas ulama, adalah pendapat yang menganjurkan untuk menggabungkan cidukan air untuk berkumur-kumur dan istinsyaq. Sebagaimana dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari shahabat Abdullah bin Zaid yang mencontohkan wudhunya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : (sampai pada perkataan)

فَمَضْمَضَوَاسْتَنْشَقَمِنْكَفٍّوَاحِدَةٍفَفَعَلَذَلِكَثَلاَثًا

“Berkumur-kumur dan beristinsyaq (memasukkan air kehidung) dari satu telapak tangan dilakukan sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhari dan Muslim)

5.       Membasuh wajah.

Mencuci wajah adalah mulai dari tempat tumbuhnya rambut kepala menuju ke bagian bawah kumis dan jenggot sampai pangkal kedua telinga, hingga mengenai persendian yaitu bagian wajah yang terletak antara jengot dan telinga.

Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’aala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى المَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki…” (Qs. Al-Maidah : 6)

Dan dalam banyak hadits diantaranya hadits yang diriwayatkan dari Humran maula (bekas budaknya) Utsman menuturkan bahwa Utsman meminta air wudhu lalu menyebutkan sifat wudhu Nabi shallallahu alaihi wasallam “… (sampai pada)

ثُمَّغَسَلَوَجْهَهُثَلاَثًا

Kemudian mencuci wajahnya sebanyak tiga kali..” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Hukum membasuh wajah  ketika wudhu?

Para ulama ijma’ (sepakat) tentang wajibnya membasuh wajah didalam berwudhu. Sebagaimana dinukilkan oleh Imam At-Thahawi,  Al-Maawardi, Ibnu Rusd, Ibnu Qudamah dan An-Nawawi.

Apa hukum menyela-nyela jengot ketika berwudhu?

Para ulama sepakat tentang disyari’atkanya menyela-nyela jenggot ketika berwudhu, dan berselisih pendapat tentang hukumnya, ada yang berpendapat wajib dan yang berpendapat sunnah. Hal ini berdasarkan sebuah hadits.

أنالنّبيّصلىعليهوسلّمكانيخلّللحيته

“Bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa menyela-nyela jengotnya.” (HR. At-Tirmidzi : 31 dan dia mengatakan hadits hasan shahih dari shahabat Utsman bin Affan)

Dan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, beliau menuturkan: “Bahwasanya jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berwudhu maka beliau mengambil air dengan telapak tangannya lalu memasukkannya di bawah langit-langit mulut kemudian menyela-nyela jengot beliau dengannya, lalu beliau bersabda : ‘Demikianlah Rabb-ku subhaanahu wata’ala memerintahkanku.” (HR. Abu Daud, Al-Baihaqi, Al-Hakim dan dishahihkan oleh syaikh Al-Albani di dalam Shahihul Jami’ :4572)

Wallahu a’lam bish shawwab insya Allah pendapat yang terpilih adalah pendapat yang mengatakan hukumnya sunnah. Dan ini madzhabnya Imam Malik dan riwayat dari Imam Ahmad dan Ahli Madinah, Hasan Al-Bashri, Ibnu Siriin dan selain mereka

 6.       Mencuci kedua tangan sampai ke siku.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى المَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki…” (Qs. Al-Maidah : 6)

 

Dan (   إلى) pada ayat ini bermakna ( bersama : مع ), maka wajib untuk memasukkan siku dalam penyucian kedua tangan.

Dan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Humran Maula (bekas budaknya) Utsman menuturkan bahwa Utsman meminta air wudhu lalu menyebutkan sifat wudhu Nabi shallallahu alaihi wasallam “… (sampai pada)

وَيَدَيْهِإِلَىالْمِرْفَقَيْنِثَلاَثًا

mencuci kedua tangannya sampai kesiku sebanyak tiga kali…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mencuci tangan sampai siku dilakukan terkadang sebanyak tiga kali atau dua kali atau satu kali.

 

Hukum mencuci kedua tangan sampai siku ketika berwudhu?

Para ulama sepakat (ijma’) tentang wajibnya mencuci kedua tangan sampai ke siku. Sebagaimana dinukilkan oleh oleh At-Thahawi, Ibnu Abdil Bar, Ibnu Hazm, Ibnu Rusyd, Ibnu Qudamah dan An-Nawawi.

Bagaimana jika seseorang tangannya atau bagian dari tangannya terpotong, masihkah dia wajib mencuci tangannya?

Maka kondisi seperti ini ada beberapa kondisi :

  • Apabila tangannya terputus dari atas siku maka tidak ada kewajiban baginya untuk mencuci tangannya karena sudah tidak ada lagi bagian yang dicuci.
  • Apabila tangan terputus dari bagian bawah siku, maka wajib dicuci sisa tangan yang ada sampai siku
  • Apabila terputusnya dari siku (persendian siku) para ulama berbeda pendapat tentangnya, ada berpendapat wajib dicuci ujung tangannya dan ada yang berpendapat tidak wajib mencuci unjung tangannya (pas bagian terputus) Wallahu a’lam bish shawwab

7.       Membasuh kepala seluruhnya termasuk telinga.

Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’aala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى المَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki…” (Qs. Al-Maidah : 6)

Dan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Humran Maula (bekas budaknya) Utsman menuturkan bahwa Utsman meminta air wudhu lalu menyebutkan sifat wudhu Nabi shallallahu alaihi wasallam “… (sampai pada)

ثُمَّمَسَحَبِرَأْسِهِ

kemudian mengusap kepalanya” (HR. Bukhari dan Muslim)

Apa hukumnya membasuh kepala ketika berwudhu?

Para ulama sepakat (ijma’) tentang wajibnya membasuh kepala ketika berwudhu. Sebagaimana dinukilkan oleh At-Thahawi, Ibnu Abdil Bar, Ibnu Rusyd, Ibnu Qudamah dan An-Nawawi dan yang lainnya

Yang diusap sebagian kepala atau semua?

Para ulama berselisih pendapat tentang hal ini, dan yang rajih (terpilih) adalah yang mengatakan wajibnya membasuh seluruh kepala berdasarkan ayat diatas dan karena inilah yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam banyak hadits yang menerangkan sifat wudhu Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan ini madzhabnya Imam Malik, Ahmad, Al-Mazini yang masyhur dari mereka.

Apakah hal ini untuk laki-laki saja atau juga untuk wanita?

Membasuh seluruh kepala untuk laki-laki dan wanita, sebagaimana disebutkan oleh IbnuTaimiyyah (Majmu Fatawa : 21/23).

Diusap sekali atau tiga kali?

Para ulama berselisih pendapat tentang hal ini, dan pendapat yang raajih Insya Allah pendapat yang mengatakan diusap sekali, berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Zaid dan ini pendapatnya kebanyakan para ulama.

Apakah kedua telinga termasuk kepala dan apa hukum membasuhnya?

Kedua telinga termasuk kepala, hal ini berdasarkan sebuah hadits di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

الأذنانمنالرأس

“Kedua telinga termasuk bagian dari kepala.” (HR. Ibnu Majah : 443 dan dishahihkan Syaikh Al-Albani di dalam shahih Ibnu Majah : 375 dan Irwa’ : 84)

Adapun tentang hukumnya para ulama berbeda pendapat hal ini dikarenakan perbedaan dalam menentukan shahih dan tidaknya hadits di atas, sebagian ulama mengatakan wajib mengusap telinga seperti Imam Ahmad dan sebagian lagi berpandangan sunnah. Insya Allah pendapat yang raajih (terpilih) pendapat yang mengatakan hukumnya wajib berdasarkan dalil-dalil yang ada. Berkata Asy-Syaikh Al-Allamah Abdul ‘Aziz bin Baaz Rahimahullah : “Fardhu-fardhu wudhu ada enam … (disebutkan di antaranya)… membasuh seluruh kepala dan dan termasuk bagian kepala, kedua telinga.” (Duruusul Muhimmah Liaamatil Ummah : 62, beserta syarhnya)

 

Cara mengusapnya bagaimana?

Caranya yaitu mengusap kepala dengan kedua tangan dari depan menuju ke belakang sampai ke tengkuk kemudian mengembalikannya ke tempat awal kemudian memasukkan jari telunjuk ke dalam telinga dan ibu jari di belakang daun telinga (bagian luar) dan digerakkan dari bawah daun telinga sampai ke atas.

Tentang hal ini sebagaimana hadits-hadits yang telah lalu penyebutannya yang menjelaskan tentang sifat wudhu Rasulullah dan sebuah hadits dari Abdullah bin Amr, beliau menuturkan tentang sifat wudhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

ثُمَّمَسَحَبِرَأْسِهِفَأَدْخَلَإِصْبَعَيْهِالسَّبَّاحَتَيْنِفِىأُذُنَيْهِوَمَسَحَبِإِبْهَامَيْهِعَلَىظَاهِرِأُذُنَيْهِ

“… Kemudian beliau mengusap kepala beliau lalu memasukkan kedua jari telunjuk beliau ke dalam telinga dan mengusap bagian luar telinga dengan kedua ibu jari tangan beliau.” (HR. Abu Dawud : 135, An-Nasa’i : 140, Ibnu Majah : 422 dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

 

Apakah mengambil air yang baru untuk mengusap telinga?

Para ulama berselisih pendapat tentang hal ini, Insya Allah pendapat yang rajih (kuat) yang mengatakan tidak mengambil air yang baru cukup dengan air yang digunakan untuk mengusap kepala. Berdasarkan hadits tentang cara wudhunya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr dan Ibnu Abbas. Dan ini pendapatnya kebanyakan ulama.

Kalau pakai imamah apakah dibolehkan mengusap imamahnya dan kalau boleh bagaimana cara mengusapnya?

Dibolehkan membasuh imamah menurut pendapat yang benar.

Ada dua cara :

  • Dengan membasuh imamahnya saja hal ini berdasarkan hadits :

عَنْأَبِيسَلَمَةَعَنْجَعْفَرِبْنِعَمْرٍو،عَنْأَبِيهِ،قَالَرَأَيْتُالنَّبِيَّصلىاللهعليهوسلميَمْسَحُعَلَىعِمَامَتِهِوَخُفَّيْهِ

Dari Ja’far bin ‘Amr , dari bapaknya berkata : “Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengusap imamah dan kedua sepatu beliau.(HR. Bukhari : 205)

Dan cara membasuhnya seperti membasuh kepala sebagaimana pendapatnya sebagian ulama di antaranya Imam Ahmad.

  • Membasuh ubun-ubunnya dan imamahnya hal ini berdasarkan hadits Mughirah bin Syu’bah, beliau menuturkan :

أَنَّالنَّبِىَّ -صلىاللهعليهوسلم- تَوَضَّأَفَمَسَحَبِنَاصِيَتِهِوَعَلَىالْعِمَامَةِوَعَلَىالْخُفَّيْنِ

“Bahwasanya Nabi berwudhu lalu mengusap ubun-ubun dan imamah serta kedua sepatu.” (HR. Muslim)

Adapun peci maka tidak disyari’atkan membasuh peci menurut pendapat yang benar dan ini pendapatnya kebanyakan  ulama, mereka berdalil karena tidak dinukilkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Wallahu a’lam bish shawwab

8.       Membasuh kedua kaki sampai mata kaki.

Hal ini berdasarkan Firman Allah Ta’ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى المَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki…” (Qs. Al Maidah : 6)

Dan berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Utsman di dalam shahih Bukhari dan Muslim :

ثُمَّغَسَلَكُلَّرِجْلٍثَلاَثًا

“…kemudian mencuci kedua kakinya sebanyak tiga kali.”

Hukum membasuh (mencuci) kedua kaki ketika wudhu?

Menurut pendapat yang rajih (kuat) pendapatnya mayoritas ulama yang mengatakan hukumnya wajib membasuh (mencuci) dan tidak mencukupi kalau hanya diusap. Dalilnya hadits sangat banyak tentang sifat wudhunya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan berdasarkan hadits Ibnu Umar, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

وَيْلٌلِلأَعْقَابِمِنَالنَّارِ

“Celakalah tumit-tumit (yang tidak terkena basuhan air wudhu -ed) dari api neraka.” (HR. Bukhari : 161 dan Muslim : 241)

9.       At-Tartiib

Membersihkan anggota wudhu satu demi satu dengan urutan yang sebagaimana Allah perintahkan. Hal ini berdasarkan dalil ayat dan hadits yang menjelaskan tentang sifat wudhu. Dan juga berdasarkan hadits :

أَبْدَأُبِمَابَدَأَاللَّهُبِهِ

“Mulailah dengan apa yang Allah mulai dengannya.” (HR. Muslim : 1118)

 

Hukumnya?

Hukumnya wajib tartiib (berurutan) dalam berwudhu menurut pendapat yang terpilih (Insya Allah) dan ini Madzhabnya Utsman, Ibnu Abbas dan riwayat dari Ali bin Abi Thalib radiyallahu anhum. Dan dengannya Qatadah, Abu Tsaur, Syafi’i, Ishaq bin Rahawaih berpendapat, dan pendapat ini  masyhur dari Imam Ahmad.

10.   Al Muwaalat (berkesinambungan dalam berwudhu sampai selesai tidak terhenti atau terputus)

Hal ini berdasarkan sebuah hadits :

 عنعُمَرُبْنُالْخَطَّابِأَنَّرَجُلاًتَوَضَّأَفَتَرَكَمَوْضِعَظُفُرٍعَلَىقَدَمِهِفَأَبْصَرَهُالنَّبِىُّ -صلىاللهعليهوسلم- فَقَالَ « ارْجِعْفَأَحْسِنْوُضُوءَكَ ». فَرَجَعَثُمَّصَلَّى

Dari  Umar bin Khaththab menuturkan bahwasanya seseorang berwudhu, bagian kuku pada kakinya tidak  terkena air wudhu, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memandangnya maka berkata : “Kembalilah, baguskanlah wudhumu (ulangi –ed), kemudian orang tersebut kembali berwudhu kemudian shalat.” (HR. Muslim : 243)

Hukumnya?

Pendapat yang raajih (terpilih) insya Allah yang mengatakan hukumnya wajib, dalilnya seperti yang telah disebutkan di atas. Kalau sendainya bukan wajib tentu cukup dengan membasuh bagian yang tidak terkena air saja setelah terhenti atau terputus, tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh untuk mengulangi wudhunya ini menunjukkan muwaalat (berkesinambungan) hukumnya wajib. Wallahu a’lam. Dan pendapat yang mengatakan wajib madzhabnya Imam Malik, pada sebuah riwayat dari Imam Ahmad, Al-Auza’i, Qatadah dan dengannya Ibnu Umar berpendapat.

11.   Doa setelah wudhu

Rasulullah shallallahu aalaihi wasallam bersabda :

مَامِنْكُمْمِنْأَحَدٍيَتَوَضَّأُفَيُبْلِغُأَوْفَيُسْبِغُالْوُضُوءَثُمَّيَقُولُأَشْهَدُأَنْلاَإِلَهَإِلاَّاللَّهُوَأَنَّمُحَمَّدًاعَبْدُاللَّهِوَرَسُولُهُإِلاَّفُتِحَتْلَهُأَبْوَابُالْجَنَّةِالثَّمَانِيَةُيَدْخُلُمِنْأَيِّهَاشَاءَ

“ Tidaklah salah seorang diantara kalian berwudhu dan sampai selesai atau menyempurnakan wudhu kemudian membaca doa : “ Aku bersaksi tidak ada ilah (sesembahan) yang berhaq disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwasannya Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya, melainkan akan dibukakan baginya delapan pintu surga yang dia bisa masuk dari pintu mana saja yang dia kehendaki.”

Dalam sebuah riwayat : “Aku bersaksi tidak ada ilah (sesembahan) yang berhaq disembah kecuali Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwasannya muhammad hamba Allah dan utusannya” (HR. Muslim)

 

Apa hukumnya membaca doa diatas setelah wudhu?

Hukumnya sunnah sebagaimana diakatakan oleh Imam An-Nawawi didalam syarh shahih Muslim.

Catatan :

Tidak boleh seseorang berlebih-lebihan dalam mengunakan air ketika berwudhu. Hal ini menyelisihi petunjuk Rasulullah shallahu ‘alahi wasallam, sebagaimana dalam sebuah hadits Anas Bin Malik berkata :

كَانَالنَّبِيُّصلىاللهعليهوسلميَغْسِلُ،أَوْكَانَيَغْتَسِلُبِالصَّاعِإِلَىخَمْسَةِأَمْدَادٍوَيَتَوَضَّأُبِالْمُدِّ

“ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mandi dengan satu sha’ sampai lima mud dan berwudhu dengan satu mud.” (HR. Mutafaqun alaihi)  

1 shaa’ = 4 mud

1 mud = gabungan telapak tangan orang yang sedang (tidak besar dan kecil)

 

Sunnah – sunnah wudhu

Sunnah-sunnah wudhu yaitu siwak, mencuci kedua telapak tangan pada permulaan wudhu, mendahulukan anggota bagian kanan, membasuh jenggot, membasuh tiga kali-tiga kali kecuali membasuh kepala hanya dengan satu kali usapan, disunnahkan berwudhu setiap kali shalat, berdoa setelah berwudhu, shalat dua raka’at setelah berwudhu. Wallahu a’lam bish shawwab.

Sumber: http://www.darussalaf.or.id/fiqih/untukmu-yang-bertanya-tentang-tatacara-wudhu-yang-benar/

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: